Senin, 07 Mei 2012



KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA INDONESIA


Remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12 – 22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Pada masa ini akan sulit untuk menebak perilaku remaja, kemauan dan perilakunya oleh sebab itu, masa ini disebut juga “masa abu – abu”. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan Tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak - kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan – keadaan itu (Hurlock, 2004: 212-213). Masa remaja merupakan “badai dan tekanan”, masa stress full karena ada perubahan fisik dan biologis serta perubahan tuntutan dari lingkungan, sehingga diperlukan suatu proses penyesuaian diri dari remaja. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. (Nurfajriyah, 2009: 1).
Berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.641.326 jiwa, kurang lebih 37%  atau 87.927.291 dari jumlah penduduk Indonesia merupakan usia remaja. Namun, sangat disayangkan karena banyak dari remaja Indonesia yang ternyata belum paham tentang masa subur, menstruasi, kehamilan dan kegiatan seksual yang tidak diinginkan, aborsi, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya serta kurangnya komunikasi dengan orang tua. Serta dampak negatif yang ditanggung secara sosial ekonomi, medis dan psikologis.
Pada masa remaja akan mengalami perubahan fisik dan mental yang belum stabil. Perubahan fisik remaja akan terlihat dengan berkembangnya organ seksual sekunder, sedangkan perubahan mental meliputi perubahan pandangan perilaku seksual masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pandangan perilaku seksual pada remaja, yaitu: kurangnya pengawasan dan perhatian orang tua akibat kesibukan orang tua, orang tua mengizinkan anak – anak mereka untuk bergaul dengan bebas tanpa memilih – milih teman yang baik, lingkungan yang semakin permisif, dan banyaknya sumber – sumber informasi yang merangsang seksualitas seperti situs porno dan majalah pria dewasa yang beredar luas. Ketidaktahuan remaja mengenai masalah kesehatan reproduksi membuat mereka tidak takut untuk mencoba sesuatu yang menyimpang, contohnya remaja sekarang telah menganggap pacaran sebagai sesuatu hubungan yang legal untuk melakukan hubungan seks ringan seperti ciuman.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan yang memungkinkan proses reproduksi dapat tercapai secara sehat baik fisik, mental maupun sosial yang bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelainan. Kemampuan seseorang khususnya perempuan untuk mengatur dan mengendalikan kesuburannya merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari kesehatan reproduksi. Sehat juga mencakup sehat mental dan sehat sosial agar proses reproduksi terlaksana dalam keadaan yang sehat. Kesehatan reproduksi remaja secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan repoduksi yaitu :
a.    Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
b.    Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb).
c.    Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb).
d.   Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb)Pada saat ini, banyak remaja yang sudah melakukan hal – hal kecil seperti ciuman yang menurut mereka hal itu adalah wajar, padahal hal tersebutlah yang menjadi awal terciptanya seks bebas. Seks merupakan ketertarikan satu dengan yang lain secara lahiriah (daya tarik seks). Hal itu mungkin wajar jika dilakukan secara sah atau ketika sudah muhrim. Namun, seks bebas merupakan kegiatan seks yang dilakukan pada saat remaja belum sah menjadi suami – istri sehingga seks bebas menjadi salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh adanya pergaulan bebas. Remaja menganggap seks merupakan bukti keseriusan cinta mereka kepada orang yang mereka cintai. Cinta merupakan perasaan kasih sayang yang ditandai dengan perhatian, rasa perduli, kepercayaan dan pengorbanan sehingga mampu membahagiakan orang yang dicintainya. Sikap yang masih labil menyebabkan remaja seringkali terjebak dalam cinta gila, penyebab remaja mudah terjebak dalam cinta gila antara lain:
·      mudah tergugah emosi dan nafsunya yang kuat
·      tidak bisa mengontrol atau mengekang emosi
·      sehingga hanyut dalam gelombang cinta
Saat ini remaja sangat rentan dengan bahaya yang timbul karena pengetahuan mereka yang minim mengenai kesehatan reproduksi. Masalah-masalah yang timbul adalah pertama, perkosaan. Perkosaan tidak hanya terjadi kepada perempuan, juga terjadi pada laki-laki (sodomi). Pada kasus perkosaan biasanya yang sering menjadi korban adalah pihak perempuan. Perkosaan tidak hanya terjadi pada dua orang yang sebaya tapi banyak kasus  menunjukan perkosaan terjadi pada anak di bawah umur oleh orang tuanya atau anggota keluarga yang lain. Kedua, free sex atau seks bebas yang biasa dilakukan remaja (kurang dari 17 tahun) dengan pacar mereka atau dengan pasangan yang berbeda-beda. Seks bebas dapat memperbesar kemungkinan penularan virus HIV atau penyakit seksual lainnya. Tindakan ini biasanya dibarengi dengan pemakaian obat-obatan terlarang yang makin memperparah kondisi psikologis remaja.
Ketiga, kehamilan yang tidak diinginkan, hal ini berkembang karena adanya mitos yang beredar di masyarakat bahwa melakukan hubungan seksual merupakan bukti cinta sebuah hubungan. Sebuah penelitian menyebutkan, selama kurun waktu 1993 1995 tentang kasus remaja putri hamil sebelum menikah berjumlah 210 orang. 210 orang tersebut terdiri dari wanita yang berusia antara 15 24 tahun serta wanita yang  berpendidikan SLTP hingga universitas yang berkunjung ke Pusat Pelayanan Informasi Remaja Cendra Mitra Remaja dan Klinik WKBT PKBI di Medan, Sumatra Utara. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa:
a.       senggama pertama terjadi setelah tiga bulan pacaran pada 25 kasus,
b.      waktu enam bulan pacaran terdapat 62 kasus senggama
c.       waktu satu tahun pacaran terdapat 110 kasus senggama, dan
d.      ada yang memiliki mitra seks lebih dari satu.
Selain di Medan, penelitian juga dilakukan di Rumah Sakit di Surabaya pada tahun 1976 – 1979. Dari 574 pengunjung, sebanyak 234 adalah remaja hamil diluar nikah dan 67,50% dari remaja hamil diluar nikah adalah siswa SLTA. Sehingga banyak korban yang akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi. Aborsi juga merupakan masalah yang besar dalam kesehatan reproduksi. Masalah lain yang akan terjadi adalah perkawinan dini yang akan berimbas pada kondisi psikologis remaja karena remaja yang berumur kurang dari 17 tahun belum siap untuk melakukan hubungan seksual dan kehamilan Tahun 1993 – 1994 terjadi kasus 236 remaja hamil belum menikah berusia 14 – 21th, ini merupakan usia wanita SLTP sampai Perguruan Tinggi. Mereka datang untuk melakukan gugur kandungan. Tahun 1998 penel pada 405 remaja ke klinik di Jakarta untuk aborsi 50% berusia 15-21 th. Tahun 1994 58%  dari 11.503 kasus aborsi berusia 15 – 24th dan 62%nya adalah belum menikah. Dengan berhubungan seksual juga akan menimbulkan Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Penyakit Menular Seksual (PMS).
Banyaknya remaja yang melakukan hubungan seks diluar nikah menyebabkan remaja tersebut akan mengalami nikah muda, pernikahan dini dapat menimbulkan adanya peningkatan jumlah penduduk karena semakin banyak remaja melakukan hubungan seks maka akan semakin banyak anak yang dilahirkan. Seperti yang terjadi pada sekarang ini, jumlah penduduk Indonesia meningkat setiap tahunnya karena semakin banyaknya pernikahan – pernikahan muda yang dilakukan oleh remaja – remaja di Indonesia. Hal tersebut tidak akan terlepas dari faktor kesehatan reproduksi baik pria maupun wanita. Semakin muda umur menikah maka semakin mudah seorang remaja mempunyai anak. Namun, hal tersebut akan berbeda jika remaja melakukan aborsi, remaja yang melakukan aborsi telah mengurangi jumlah calon penduduk karena remaja tersebut sama saja dengan membunuh calon bayi yang ada di kandungannya. Oleh sebab itu, diperlukan adanya pemahaman tentang kesehatan reproduksi remaja dan cara agar terhindar dari hal – hal negatif yang sekarang ini justru banyak diikuti oleh remaja Indonesia.
Piramida penduduk Indonesia berbentuk kerucut, ini berarti lebih banyak penduduk yang berusia muda. Hal tersebut akan semakin bertambah dengan semakin cepatnya penduduk remaja tersebut menikah. Seharusnya pemerintah mampu mengatasi adanya pernikahan muda tersebut agar dapat menekan jumlah penduduk Indonesia. Banyaknya remaja di Indonesia ditambah dengan kurangnya pengetahuan mereka terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja membuat remaja kurang tanggap terhadap adanya pergaulan bebas yang dapat mendorong mereka ke hal – hal negatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar